“Gue kok rasanya nggak cantik-cantik juga, ya.”

Pernyataan tersebut pernah terlontar dari bibir salah seorang teman karib saya. Diutarakan di dini hari setelah sesi mabuk-mabukan yang tidak mabuk-mabuk amat dan berujung pada sesi curhat di kamar kos sambil makan nasi goreng.

“Lah, kok lo ngerasa kayak gitu?” tanya saya di sela suapan nasi goreng yang malam itu rasanya enak banget. “Habisan gue nggak putih-putih. Perut gue buncit. Idung gue pesek. Dada gue rata,” keluhnya.

Saya hanya bisa mafhum pada keluhan sahabat saya yang satu ini. Di Indonesia, seorang perempuan dianggap cantik ketika ia memiliki kulit putih, hidung mancung, perut rata, dan dada besar.

Standar kecantikan yang sungguh kebule-bulean ini dihadirkan oleh para penjajah dari Eropa di masa kolonial, tidak juga pergi dari benak kita meski sudah puluhan tahun lamanya mereka secara de jure pergi meninggalkan mantan wilayah jajahannya ini. Masih laku mondar-mandir di layar televisi, lembar majalah, linimasa Instagram, hingga laman utama YouTube kita.

Mungkin kini kiblatnya sudah bergeser, jika kita dulu seratus persen mengamini standar kecantikan Kaukasia, kini kita mengamini standar kecantikan Asia Timur. “Biar kayak eonnie-eonnie,” sering saya dengar ketika para perempuan Indonesia menggambarkan standar cantik saat ini.

Hasilnya? Produk-produk pemutih laku keras di pasaran. Klinik-klinik menawarkan jasa pemutih kulit — entah apa dampak jangka panjangnya pada kulit pengguna. Berbagai MLM dan merek-merek mainstream berlomba menawarkan produk peluruh lemak terbaik mereka. Sederet MUA (alias Make-Up Artist) saling mengungguli dalam “memutihkan” klien mereka dengan memakaikan alas bedak dan concealer yang warnanya tiga hingga lima shade di atas shade asli si klien — meski hasilnya bukannya putih, klien malah berakhir dengan warna kulit abu-abu macam mayat yang siap dimandikan, dikafankan, dishalatkan, kemudian dikubur.

Setiap perempuan Indonesia pasti pernah jadi korban dari setidaknya satu standar kecantikan yang beracun ini.

Angkat tangan jika kamu pernah dicekoki atau mencekoki diri dengan produk pemutih kulit, bahkan sedari usia dini.

Angkat tangan jika kamu pernah diet mati-matian tanpa mempedulikan kesehatan dan stamina untuk menjalani hari.

Angkat tangan jika kamu merasa make up yang mengubah bagaimana wajahmu terlihat habis-habisan membuatmu merasa lebih cantik.

Angkat tangan jika kamu pernah merasa minder dengan penampilan tubuh dan wajah kamu.

Angkat tangan jika semua negativitas yang bersumber dari standar kecantikan yang tidak realistis ini pernah membuat kamu membenci dirimu sendiri.

Standar kecantikan yang nyeleneh tentunya tidak ekslusif ada di Indonesia saja. Di seluruh penjuru bumi, selalu ada standar kecantikan yang menekan perempuan untuk mengubah penampilan fisik mereka mengikuti standar tersebut. Meski begitu, saya senang sekali melihat banyak perempuan mulai bangkit menentang standar kecantikan yang tidak masuk akal dan menghargai kecantikan alami mereka.

Di India, gerakan untuk menentang pemutih kulit digaungkan dengan gerakan #unfairandlovely, memelesetkan nama krim pemutih yang juga dijual di Indonesia tersebut. Di Amerika, merek-merek kosmetik memperluas koleksi mereka agar dapat mencakup kebutuhan semua warna kulit, terutama setelah rilisnya Fenty Beauty milik Rihanna dua tahun yang lalu. Fenty awalnya hadir dengan 40 shade alas bedak yang mencakup mulai dari warna kulit paling putih hingga paling hitam kini memperluas koleksinya hingga mencapai 50 shade. Coba dibandingkan dengan alas bedak merek lokal Indonesia yang paling banter hanya punya delapan shade.

Tidak hanya tentang warna kulit, keberagaman bentuk tubuh pun menjadi fokus gerakan pemberdayaan ini. Contohnya, perusahaan raksasa pakaian olah raga, Nike, akhir-akhir ini membuat geger dengan menampilkan manekin berukuran besar untuk memasarkan koleksi plus size milik mereka. Tagar plus size fashion pun sering menjadi acuan berpakaian baik di Pinterest maupun Instagram untuk para perempuan berukuran besar (salah satunya saya) dapat berpakaian lebih modis. Oh iya, lagi-lagi Rihanna, doi punya line baju dalam yang inklusif juga. Model dan motifnya bagus-bagus, nggak kayak kebanyakan bra gede yang modelnya kayak cuma buat mbah-mbah.

Wajah dan tubuh kita cuma satu, bentuk dan warnanya mulanya ditetapkan oleh genetik yang kita warisi dari orang tua kita. Kadang berubah mengikuti kebiasaan kita atau kejadian yang nggak direncana kayak kecelakaan. Wajah dan tubuh kita diciptakan beragam, sama kayak kepribadian kita. Kalau semua manusia di bumi ini dibuat sama semua rupanya lha bukannya jadi nggak asik, ya?

Di saat seperti ini saya ngiri sama Rihanna yang punya banyak duit sampai bisa jualan make up dan pakaian dalam yang inklusif. Buat sekarang, kita sabar-sabarin dulu aja sama produk yang ada, sambil terus mendorong industri kecantikan dan mode biar jadi lebih inklusif buat semua.

Disillusioned and disenchanted. Good eyeshadow palettes and intersectional feminism enthusiast.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store