Naik Turun: Perjalanan Hidup dengan Bipolar Disorder

“Lo bipolar? Ih, takut ah gue sama lo, ntar tiba-tiba ngamuk mukulin gue, lagi.”

Lelucon (yang nggak lucu) seperti di atas cukup sering terlontar ketika istilah bipolar disorder disebut-sebut. Ada juga orang yang sedang mengalami mood swing menyebut dirinya bipolar. Dua contoh di atas ini menunjukkan seberapa kurangnya pemahaman kebanyakan orang akan bipolar disorder itu sendiri.

Nggak, saya nggak akan menguliahi kalian soal bipolar disorder. Lha saya aja kuliahnya di jurusan Sejarah, mana paham seluk-beluk detail tentang penyakit tersebut. Saya, seperti biasa, cuma mau berbagi pengalaman sebagai seorang penderita bipolar disorder.

Jadi begini ceritanya. Beberapa tahun belakangan, saya seringkali merasa mood saya secara general sering naik turun dan marginnya cukup drastis. Di pertengahan masa kuliah (mulai akhir tahun 2014), saya mengalami depresi mayor yang berimbas pada hambatan dalam perkuliahan. Kondisi ini memburuk di pertengahan tahun 2015 dan bertahan hingga awal tahun 2016.

Pada masa-masa tergelap itu, saya menangis hampir tiap malam dan pikiran suicidal jadi teman baik saya. Ditambah lagi anxiety yang nggak bisa diam tiap hari dan malamnya, hasilnya kesehatan fisik dan mental saya berantakan. Saya baru bisa tidur jam 3 pagi ke atas. Berat badan naik 20 kg karena nggak bisa berhenti makan. Jerawat udah macam koloni jamur. Mantap banget pokoknya.

Di awal tahun 2016, mood saya naik seiring kondisi akademik yang juga membaik. Apalagi di musim semi dan panas di mana saya akhirnya punya cukup uang untuk jalan-jalan dan nonton konser band favorit saya, mood saya jadi positif banget meski tumpukan ujian dan tugas kuliah sebelum liburan tetap bikin stres.

Liburan berakhir, masuklah saya ke tingkat terakhir masa perkuliahan. Seiring dengan turunnya suhu di belahan bumi utara, mood saya ikut turun (ini kemungkinan besar ada korelasinya soalnya ada yang namanya seasonal affective disorder). Tapi, beda dengan tahun sebelumnya, mood saya nggak naik lagi begitu musim semi dan panas tiba karena deadline tugas dan mini skripsi serta ujian semester akhir juga menunggu di situ. Parah banget rasanya. Namun, kali ini saya dibantu dengan bimbingan psikolog. Eh tapi nggak gitu ngaruh juga sih, karena sepulangnya dari kantor Beliau, mood saya jelek lagi.

Di sini saya mulai sadar kalau penyakit mental saya kemungkinan besar sifatnya klinis.

Setelah dinyatakan lulus pada awal bulan Juli 2017, mood saya cerah ceria lagi. Apalagi mau pulang for good ke Indonesia, saya makin hepi dan percaya diri kalau nanti di Indonesia saya bakal dapat magang atau kerja di tempat-tempat yang oke.

Ternyata nggak sehepi itu dong. Saya berjuang keras dalam mencari kerja di negeri ini selama setahun lebih sebelum akhirnya dapat kesempatan magang di tempat yang memang sudah saya idamkan dari masa kuliah dulu. Mood yang tadinya udah oke turun drastis lagi. Sempat agak naik waktu dapat pengumuman diterima magang, eh drop lagi karena bapak saya kena serangan stroke yang cukup parah.

Hadeh hidup, gini amat dah.

Selama paruh pertama magang, mood saya cenderung stabil di nggak-terlalu-depresi-tapi-nggak-ceria-juga. Di akhir tahun 2018, karena sesuatu dan lain hal mood saya kembali terjun bebas ke fase depresi. Tiap malam nangis. Banyak bengong dan diam. Gelisah dan fidgety.

Nggak lama habis tahun baru, mood saya naik lagi setelah sesuatu dan lain hal yang lain, yang masih nyambung dengan hal penyebab fase depresi sebelumnya. Cuma, yang kali ini naiknya ekstrim banget sampai saya jadi takut sendiri. Saya jadi obsesif. Gampang marah tentang hal-hal kecil. Puncaknya adalah dorongan untuk menyakiti diri sendiri dan orang lain. Di sini akal sehat saya langsung teriak, “Woy, ke psikiater sana!”

Kalau ada satu pelajaran yang bisa saya tarik dari fase depresi mayor pertama saya, itu adalah minta pertolongan profesional secepatnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, saya pergi ke dokter spesialis kejiwaan di RSUD dekat rumah saya. Orang tua saya nggak tahu sama sekali tentang ini, bahkan hingga hari ini, karena mereka pernah ngamuk waktu tahun lalu saya ketahuan mau ke psikiater. “Kamu kurang ibadah,” begitu kata mereka. Biasa lah, miskonsepsi tentang kesehatan mental di masyarakat Endonesah.

Hari itu di rumah sakit saya benar-benar nggak tenang. Ngantrinya lama, bikin anxiety saya naik sampai saya mual banget. “Nggak biasanya ramai begini”, kata pasien lain. Setelah menunggu selama empat jam, akhirnya saya ketemu dokter juga. Begitu di dalam, saya cerita tentang semua hal yang saya rasa. Diagnosis dokternya langsung: bipolar disorder. Dan dorongan agresif tersebut muncul karena fase mania kali ini nggak bisa dikontrol.

Wadu.

Ngeri juga diagosisnya. Saya diberi obat yang cukup kuat sampai bikin otak saya rasanya shut down selama seminggu pertama minum obat tersebut. Positifnya, dorongan agresif dan tersebut pelan-pelan berhasil ditekan dan mood saya berangsur-angsur membaik.

Dua mingguan setelahnya, ketika saya mau kontrol, eh rumah sakitnya kebakaran. Klinik rujukan pun meminta saya untuk pindah rumah sakit yang otomatis artinya ganti dokter. Dokter yang menangani saya sekarang jauh lebih cocok dengan saya dibanding yang sebelumnya, saya jadi bisa cerita lebih banyak dan dapat penjelasan lebih banyak juga dari Beliau.

Bergantinya fase mood seorang penderita bipolar nggak perlu pemicu besar; hal sesimpel pesan WhatsApp yang nggak kunjung dibalas pun cukup untuk jadi pemicu. Lalu, pergantian fase biasanya membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan bagi beberapa orang. Jangan tertukar sama mood swing biasa yang terjadi dalam hitungan jam, ya. Sebuah fase pun bertahan dalam durasi yang cukup panjang sehingga pengobatan harus disesuaikan dengan fase yang sedang dialami. Dokter saya juga bilang kalau naiknya libido secara gila-gilaan termasuk ciri-ciri fase mania, di samping naiknya kepercayaan diri, keceriaan, dan ketidakhati-hatian secara gila-gilaan. The more you know.

Bu Dokter memberikan obat yang lebih mild dibanding obat sebelumnya. Beliau juga menegaskan bahwa obat-obatan ini diminum seperlunya saja; pasien harus tahu kapan obat dibutuhkan dan kapan obat tidak usah diminum. Berhubung obat yang diberi fungsinya masih untuk menekan fase mania, saya minum obat tersebut kalau merasa mania saya mulai naik aja. Obat anxiety-nya pun begitu.

Di samping itu, saya sadar kalau pengobatan ini nggak akan efektif kalau saya nggak menyelesaikan masalah yang jadi pemicu ketidakstabilan mood saya. Saya pun pelan-pelan berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut demi pulihnya kesehatan mental saya.

Sudah sebulanan ini mood saya rasanya agak turun ke fase depresi, sehingga saya berhenti minum obat anti mania. Ya kalau diminum terus nanti makin depresi, gimana dong. Namun, seiring support system yang saya punya sekarang semakin solid, saya bisa menahan fase depresi ini agar tidak terlalu mengganggu. Masih bisa berfungsi dalam kehidupan sehari-hari lah seenggaknya.

Jujur aja sih, kalau ditanya pilih fase mania atau depresi, saya agak pilih fase depresi yang bikin saya lebih humble dibanding fase mania yang bikin saya jadi songong. Ya pengennya sebenernya sih balik sepenuhnya stabil dan happy-go-lucky lagi kayak jaman SMA dulu, tapi kayaknya susah.

Begitulah kehidupan saya beberapa tahun ke belakang ini bergulat dengan bipolar disorder. Bukan perjuangan yang mudah, apalagi masih banyak stigma terkait kesehatan mental di tengah masyarakat kita. Kecuali kamu pelaku pelecehan seksual atau copet, nggak perlu takut tiba-tiba saya hajar. Nggak perlu takut saya tiba-tiba nangis tanpa alasan juga.

Untuk sesama pejuang bipolar disorder, we’re all in this together. Kamu kuat. Kita kuat. Jangan takut untuk periksa ke psikiater. Ingat loh, poli kejiwaan ditanggung oleh BPJS! Jangan lupa terus kontrol dengan dokter atau terapis kamu. Coba dirasa-rasa kapan kamu butuh minum obat yang mana, sambil kamu coba kendalikan emosi kamu. Learning about self control always helps a lot because everything should always start from yourself. Selain obat dan terapi, kalau ada masalah eksternal yang harus kamu selesaikan, selesaikan dulu karena itu bakal membantu pemulihan kamu dengan signifikan. Kalau ada orang yang bisa kamu percaya untuk jadi support system, jangan segan untuk minta dukungan mereka. Tapi ingat, mereka bukan psikiater kita, bukan kewajiban mereka untuk membantu kita sembuh.

I’m not alone in this; we’re not alone in this. And I believe in our strength to overcome this.

Disillusioned and disenchanted. Good eyeshadow palettes and intersectional feminism enthusiast.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store