Rumah dalam Sepiring Nasi Padang

"Aku orang Tangerang."

Ketika saya balita, jika saya ditanya 'orang mana' pasti saya akan mengatakan hal ini sebagai jawaban. Pasalnya, saya selalu kebingungan: ayah saya berdarah Jawa, sementara ibunda berdarah Minang totok. Mereka berdua bertemu di Tangerang dan setelah menikah memutuskan untuk menetap di sana hingga hari ini. Saya sendiri dilahirkan di Jakarta karena ibu saya berkata, "Seenggaknya di akta lahir kamu tulisannya Jakarta, lho. Nanti kalau ke luar negeri kan orang tahu kamu lahir di mana. Kalau Tangerang, kan, orang asing nggak tahu." Mungkin memang ini alasannya, atau sebenarnya sesimpel karena ibu saya menemukan rumah sakit bersalin terbaik di Jakarta.

Di jenjang Sekolah Dasar, pertanyaan 'orang mana' mulai muncul kembali, terutama ketika mata pelajaran IPS mulai membahas tentang suku bangsa dan etnis di Indonesia. Teman-teman sekelas saya dengan riang mengeksplorasi ancestry masing-masing, mempertanyakan tentang diri sendiri dan satu sama lain. Maklum, Tangerang merupakan melting pot para perantau dari seluruh Indonesia sehingga suku bangsa warganya berupa-rupa.

Pada usia tersebut, saya sudah dikenalkan pada konsep ancestry Minang oleh ibu saya. "Garis keturunan Minang itu turunnya lewat garis perempuan, bukan laki-laki seperti adat Jawa. Artinya, karena Ibu urang awak, kamu dan adikmu diakui sebagai urang awak juga. Bonusnya, karena Babeh orang Jawa, kamu juga diakui sebagai orang Jawa," jelas ibu saya.

Meski terdiri dari dua suku bangsa yang berbeda, keluarga saya condong mengedepankan nilai-nilai dan adat Minang dalam kehidupan sehari-hari. Berhubung saya dan adik perempuan, kedua orang tua kami menekankan bahwa perempuan harus berpendidikan tinggi dan berdaya, salah satunya karena perempuan diagungkan dalam adat Minang. Seringkali ketika om tante berkunjung, mereka bercakap-cakap dalam bahasa Minang yang sesekali diinterupsi oleh saya yang meminta terjemahan beberapa kata yang mereka ucapkan. Yang paling spesial, karena ibu saya adalah koki di rumah kami, makanan yang kami makan selalu mendapat sentuhan rasa masakan Minang. Dimulai dari sekadar sambal hingga ketupat sayur dan rendang di idul fitri, semua mendapat sentuhan citarasa khas masakan Minang.

Hingga kelas 4 SD, saya memiliki masalah besar tiap pulang ke Padangpanjang karena saya tidak suka pedas. Saya suka sekali sate padang, tapi harus dipisah kuahnya karena saya tidak kuat menahan rasa pedasnya. Semuanya berubah ketika ibu saya sering memasak telur balado yang nikmatnya luar biasa, sampai-sampai saya berjuang untuk meningkatkan toleransi rasa pedas saya demi menikmati makanan tersebut.

Perjuangan saya berbuah manis. Saya yang biasanya rewel akan pedasnya makanan di kampung kini bisa menikmati segalanya. Almarhumah Oma yang dulu harus memasak makanan khusus untuk saya kini tersenyum lebar karena saya bisa menikmati semua masakan Beliau. Oma saya sangat lihai memasak dan ibu saya jelas mendapat keterampilannya karena sering membantu Oma di dapur. Dari sekian rupa masakan Minang, yang Oma tolak untuk memasak hanyalah sate karena resepnya cukup rumit. Sisanya, rasanya bahkan lebih lezat dari hidangan di Restoran Sederhana. Bless her soul and her hands, really.

Masakan Oma adalah salah satu hal yang mengikat batin saya dengan kampung. Sayangnya, Oma meninggal dunia saat saya kelas 5. Saya hanya punya waktu setahun untuk menikmati masakan Oma dengan cita rasa orisinilnya. Masih teringat, saya menolak untuk makan setelah pemakaman Oma karena tidak akan ada lagi masakan sesedap milik Beliau. Tentu pada akhirnya saya menyerah karena perut saya keroncongan dan ibu saya memaksa saya makan.

Memasuki jenjang SMP, Ibu semakin jarang memasak karena disibukkan oleh kegiatan di sekolah (ibu saya pendiri SMP saya). Sebagai solusinya, kami seringkali membeli nasi bungkus di rumah makan Padang untuk makan siang dan malam. Meski saya biasanya cepat bosan dengan menu makanan yang itu-itu saja, entah mengapa saya tidak pernah bosan dengan masakan Minang. Di sinilah saya menemukan bahwa masakan Minang, terutama nasi Padang, merupakan comfort food untuk saya.

Hal ini semakin terbukti ketika saya duduk di bangku SMA dan harus tinggal di asrama. Di hari-hari di mana menu makanan asrama rasanya terlalu memuakkan atau suasana hati saya buruk, saya kerap kali merindukan melahap nasi Padang. Kadang niat ini saya tunaikan karena ada rumah makan Padang tak jauh dari sekolah, tapi seringkali harus saya tahan karena tak punya uang. Kala saya pulang ke rumah dan dibelikan nasi Padang, saya selalu gembira bukan kepalang.

Ada nostalgia yang kuat melekat di sepiring nasi Padang: hawa dingin Padangpanjang, lanskap sawah berlatar Gunung Marapi di halaman belakang rumah, canda tawa para sepupu, dan senyuman lebar almarhumah Oma. Lebih dari itu, sepiring nasi Padang adalah bentuk ikatan saya terhadap budaya dan adat yang tidak hanya diturunkan melalui DNA saya, tetapi juga saya reclaim. Melalui sepiring nasi Padang, saya menemukan sense of belonging saya dalam budaya dan adat Minang. Seperti rumah makan Padang yang bisa muncul di mana saja, saya pun dapat merantau ke mana saja dan thriving di sana.

Di mana pun nasi Padang berada, di situ lah saya bisa menemukan seporsi besar dari rumah.

Disillusioned and disenchanted. Good eyeshadow palettes and intersectional feminism enthusiast.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store